Lokasi syuting film KKN di Desa Penari pun menjadi sorotan setelah film tersebut tayang di bioskop yang menyedot lebih dari 7 juta penonton. Bahkan dikabarkan pemilik rumah yang difoto itu jatuh sakit dan menjual rumahnya seharga 60 juta rupiah.
Setelah tertunda sekitar dua tahun, film KKN Kampung Penari akhirnya tayang di bioskop. Lebih dari tujuh juta orang telah menonton film arahan Awi Suryadi sejak pemutaran perdana pada 30 April lalu. Tak pelak, adaptasi tagar Twitter @SimpleMan yang ditakuti pada pertengahan 2019 ini menjadi film terlaris sepanjang masa.
Padahal tragedi “KKN di Desa Penari” itu sebenarnya terjadi di satu daerah di Jawa Timur, namun syuting film ini dilakukan di banyak lokasi di Yogyakarta, salah satunya di Kabupaten Gunungkidul. Ini juga yang menjadi lokasi banyak orang penasaran untuk melihat film yang menghebohkan scene horor Indonesia tersebut.
Selain itu, ada kabar bahwa salah satu rumah di Desa Penari yang digunakan untuk syuting film KKN akan dijual karena pemiliknya panik. Dari berita ini hati dan jiwa saya terharu dan saya langsung menuju lokasi syuting di Ngluweng Padukuhan, Desa Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul.
Sesampainya di Ngluweng Padukuhan, saya langsung menuju rumah istri kepala desa Rahayu (48) untuk mengisi buku tamu. Saya juga melihat puluhan orang mengisi buku tamu dengan maksud melihat rumah-rumah yang dijadikan lokasi syuting.
Menurut istrinya Rahayu, setidaknya ada empat rumah warga di Desa Penari yang dijadikan lokasi syuting film KKN, yakni rumah Ngadinah, Tomo, Marsono, dan Ngadiyo. Dari keempat lokasi tersebut, rumah milik Ngadiyo (76) merupakan tempat yang paling banyak digunakan lokasi pembuatan film tersebut. Selain itu, kabarnya rumah ini juga akan dijual oleh pemiliknya.
Rumah Mbah Ngadiyo sendiri agak terpisah dengan rumah warga. Jalan menuju rumah sulit dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Untuk melakukan ini saya harus berjalan di atas pohon terjal berbatu, licin, dan terbelah sekitar 150m.
Rumah itu dikelilingi oleh berbagai pohon setinggi puluhan meter. Banyak pohon, mulai dari jati dan mahoni hingga pohon kelapa, tumbuh subur di sekitar rumah. Letaknya yang cukup jauh dari pemukiman penduduk membuat rumah kayu ini luar biasa sepi.
Rumah Mbah Ngadiyo berukuran besar dan terbagi menjadi tiga ruangan, yaitu ruang depan, ruang belakang, dan dapur. Namun, tampaknya hanya ada beberapa perabot yang tersisa di ruangan itu, seperti lemari, meja, dan kursi yang rusak. Hal ini memberikan kesan bahwa rumah tersebut sudah tidak berpenghuni lagi.
Padahal, saya ingin bertemu dengan pemiliknya, Mbah Ngadiyo, dan istrinya. Namun, saat ini tinggal di rumah anaknya Sutrisno (46 tahun), berlokasi di Gunungkidul, Banaran, Playen, Dusun Banaran VI.
Saya menemui Mbah Ngadiyo di Dusun Banaran VI, sekitar 2 kilometer dari Dusun Ngluweng. Namun, saat ini Mbah Ngadiyo dan istrinya sedang sakit, jadi saya hanya melihat putra keduanya, Sutrisno.
“Ya, orang tua saya sudah hampir dua tahun di sini bersama saya. Karena orang tua saya sudah tua, saya tidak meminta mereka untuk pindah ke sini. Masalahnya jarak antara rumah saya dan ayah saya jauh, jadi ya mudah merawatnya kalau sakit. Dia,” kata Pak Sutrisno di awal pembicaraannya, Sabtu (21/5/2022).
Anak itu menanggapi kabar bahwa orang tuanya sakit setelah syuting di rumah
Ia pun mengklarifikasi pertanyaan yang beredar di masyarakat tentang orangtuanya yang jatuh sakit setelah rumahnya digunakan untuk syuting KKN di Kampung Penari. Menurutnya, apa yang disampaikan banyak media tidak benar.
Bahkan ia sendiri sempat kaget ketika membaca beberapa berita tentang alasan ayahnya dikabarkan jatuh sakit setelah rumahnya dijadikan lokasi syuting film viral tersebut.
Sutrisno mengakui bahwa orang tuanya memang tinggal bersamanya beberapa hari setelah syuting berakhir. Namun, lagi-lagi bukan karena takut, melainkan karena kesehatan orang tuanya.
“Sebelum syuting, orang tua saya sering sakit. Jadi, bukan karena rumah ayah saya dijadikan lokasi, dia selalu sakit. Itu tidak benar. Bisa dipastikan itu hoax,” kata Pak Sutrisnow.
Letak rumah Mbah Ngadiyo memang unik dan berbeda dengan kebanyakan rumah di Dusun Ngluweng. Letaknya yang berada di ujung, di dataran tinggi, ditumbuhi berbagai pepohonan, membuat rumah tersebut seolah memang berada di tengah hutan, jauh dari penghuninya.
“Sekitar akhir tahun 2019, PH minta izin syuting di rumah bapak saya. Setelah kesepakatan dan kesepakatan tercapai, saya minta agar rumah orang tua saya dijadikan lokasi syuting KKN film di Kampung Penari,” ujar Sutrisno. .
Tak hanya jauh dari pemukiman warga, sebagian besar rumah model limas masih menggunakan dinding bambu dan kayu. Ini bisa membuat rumah terlihat tua dan misterius, menjadikannya lokasi yang cocok untuk film horor.
“Rumah ayah saya sebenarnya tidak terlalu tua, dibangun sekitar tahun 1960-an. Dulu, ayah dan ibu saya tinggal tepat di sebelah masjid di bawah, sekitar 500 meter dari rumah sekarang,” kata Sutrisno.
Sutrisno tak pernah menyangka rumah ayahnya akan dijadikan lokasi syuting. Pria yang bekerja sebagai satpam itu juga tidak menyangka rumahnya di desa terpencil akan dilihat jutaan mata masyarakat Indonesia.
“Kesan pertama ya, baru terasa aneh. Kok banyak banget entertainernya di rumah. Gak nyangka tempat lahir dan besar saya seluar biasa sekarang ini,” kata Sutrisno.
Sementara beberapa warga percaya rumah itu berhantu, Pak Sutrisnow tidak pernah melihat atau mengalami sesuatu yang misterius selama tinggal di rumah tersebut. Menurutnya, Rumah Bambu masih menjadi istana yang menyimpan banyak kenangan bersama keluarga.
“Mungkin masih ada yang menganggap rumah bapak saya angker, dan itu hak mereka, sih. Namun, bagi saya sendiri, saya belum pernah punya pengalaman mistis di rumah itu. Padahal, bersama keluarga banyak kenangan manis,” Pak jelas Sutrisno.
Banyak pengalaman yang didapat Pak Sutrisno selama pembuatan film KKN Kampung Penari. Film ini mengambil tempat di rumah orang tuanya dan membawa kembali kenangan masa kecilnya puluhan tahun yang lalu. Ingatan itu muncul saat melihat adegan dari film yang masih menggunakan lampion.
“Yang paling berkesan di rumah itu, ya waktu keluarga masih kumpul, adik-adik tinggal bareng. Dulu sekitar tahun 1981 belum ada listrik, jadi kami masih pakai lampion kemana-mana,” kata Pak Sutrisno.
“Banyak sekali kenangan indah bersama keluarga di rumah itu. Sekarang, sulit untuk bersama. Orang tua mereka sudah tua dan anak mereka sudah menikah,” lanjut Pak Sutrisno.
Suara kambing dan sapi yang sulit
Bukan hanya Pak Sutrisno yang merasakan pengalaman tak terlupakan itu, tapi juga warga sekitar. Subaldo, 51, seorang satpam dan tokoh masyarakat di lokasi penembakan, mengaku senang kampung halamannya dijadikan lokasi syuting.
Sebagai satpam lokasi syuting, tugasnya adalah memastikan suasana di lokasi syuting nyaman dan tidak bising.
“Hampir setiap hari, selama kurang lebih 20 hari, saya jalan-jalan keliling desa sambil syuting. Biasanya, saat kru kembali ke hotel, saya akan diminta untuk menjaga peralatan dan memastikan suasana di desa itu. kondusif,” jelas Pak Subardo.
Pak Subado mendapat banyak pengalaman baru selama syuting. Selama proses syuting, dia berjalan keliling desa setiap hari untuk memastikan suasana di desa itu sunyi, dan tidak ada suara lain kecuali para aktor yang tampil bersama.
Mr Subbaldo juga mengatakan bahwa selama syuting, banyak warga berkumpul di sekitar rumah Mbaengadillo untuk menonton para aktris tampil. Setiap ada warga yang ingin menyaksikan proses syuting, pihaknya mengimbau kepada semua pihak untuk tetap tenang dan tidak membuat suara yang keras di lokasi.
“Pokoknya pas sutradara bilang ‘action’, semua diam. Kalau suaranya bocor, syutingnya diulang. Saya baru tahu kalau shooting ki itu jadinya,” kata Pak Subardo.
“Saya juga minta untuk mengecilkan volume sound system yang berasal dari rumah warga, padahal disana sedang ada hajatan. Ya, warga yang sedang hajatan rela mengecilkan volume sound system sampai akhir tahun. acara agar syuting lancar. ,” kenang Pak Subardo.
Cerita unik seputar lokasi syuting juga datang dari Pak Sardiman (64). Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu diminta menghentikan embikan kambing dan sapi warga. Sebagai warga yang baru pertama kali melihat proses syuting, ia mendapat banyak pengalaman baru.
“Kalau minta warga diam dan tidak ribut saat syuting, gampang saja Mas. Yang sulit adalah menjaga sapi dan domba diam. Jadi, ya, kedua hewan itu harus diberi makan terus menerus agar bisa diam, Jangan ganggu mereka,” kata Pak Sadiman sambil tertawa.
Rumah tempat pembuatan film itu dijual seharga 60 juta rupiah?
Diakuinya, banyak pemberitaan yang saling bertentangan di media sosial setelah film KKN di Desa Penari viral. Selain kabar ayahnya diduga takut pindah, ada juga kabar rumah itu akan dijual seharga 60 juta rupiah.
“Jujur saya kaget waktu itu rumah dijual seharga $60 juta nilai nominalnya, saya tidak pernah mengatakan itu, apalagi di media. Saya memang berniat menjual, tapi nilai nominalnya tidak pernah disebutkan,” lanjut Sutrisno Said.
“Awalnya saya mau jual rumah karena sudah tidak berpenghuni. Orang tua saya ikut. Jadi ya lebih baik saya jual daripada tidak dirawat,” tambah Pak Sutrisno.
Sutrisno mengakui bahwa kerabat dan tetangga telah menyarankan untuk tidak menjual rumah tersebut. Jumlah yang diinvestasikan membuatnya memikirkan kembali rencananya untuk menjualnya. Namun, jika ada yang ingin membelinya, ia menyarankan untuk datang dan bertemu langsung tanpa perantara.
Selain itu, Bapak Sutrisno putra Mbah Ngadiyo mengaku senang rumahnya dijadikan lokasi syuting film KKN di Kampung Penari. Selain memberikan banyak pengalaman baru bagi warga setempat, pembuatan film ini juga membawa kembali kenangan masa kecil yang indah bagi dirinya dan keluarganya.
“Ya, semoga film ini mengangkat dan memberkati masyarakat di desa saya. Selain itu, saya juga berharap banyak PH yang mempertimbangkan desa ini sebagai lokasi syuting,” pungkas Pak Sutrisno mengakhiri perbincangan.